Selasa, 22 Januari 2008

Dahsyatnya Potensi manusia

Jika Anda ditugasi oleh atasan Anda untuk pergi ke suatu kota yang jauh dari kota Anda, tetapi Anda tidak diberi bekal untuk pergi kesana, sementara Anda tidak memiliki bekal sendiri, apakah Anda mau pergi? Seseorang pemberi tugas yang baik dia akan melihat apakah dia mampu atau tidak untuk melaksanakan tugas tersebut. Jika tidak dia harus memberikan bekal tersebut kepada orang yang diperintahkannya.
Begitu juga Allah SWT, Allah SWT tentu sudah memberi bekal kepada kita untuk mengemban tugas besar kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Bekal yang sudah diberikan kepada kita ialah akal beserta potensi-potensi lainnya, hati dan jasad.
Potensi yang diberikan kepada manusia akan berjalan baik dan tersalurkan dengan baik apabila manusia mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Segala potensi pada manusia diperuntukkan dan disediakan Allah SWT agar manusia dapat menjalankan ibadah dan melaksanakan fungsi khalifah.
Dengan potensi inilah manusia dikehendaki mampu menjalankan misi sebagai khalifah yang diamanahkan kepada manusia oleh Allah SWT, padahal makhluk lainnya enggan untuk memikul tugas ini karena beratnya.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS.33:72)
Kita semua sudah menyaksikan dan bahkan mengalami bagaimana dahsyatnya potensi manusia. Manusia menjadikan peradaban dan teknologi berkembang dengan pesatnya, yang seakan sebuah keajaiban, sesuatu yang tidak terpikirkan pada suatu jaman bisa terealisasi pada jaman berikutnya.
Namun, siapakah yang menguasai peradaban dan teknologi tersebut saat ini? Sudahkah kita mengoptimalkan potensi yang kita miliki?

Kekuatan itu dari Allah

Kesadaran akan keterlibatan Allah bukan suatu alasan yang menyebabkan kita malah malas. Tidak berusaha karena hanya berharap pada takdir Allah. Justru seharusnya hal ini menjadi suatu dorongan kuat bagi kita. Inilah yang akan menjadi motivasi kita.
Ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari kesadaran kita akan keterlibatan Allah, yaitu:
KekuatanSiapa yang bisa melawan takdir Allah? Jika kita ditakdirkan berhasil siapa yang bisamencegahnya? Berlaku juga untuk sebaliknya kalau kita ditakdirkan untuk kecewaatau sedih meski kita tidak melakukan apa-apa, kekecewaan atau kesedihan pastimenghampiri kita. Sehingga tidak ada pilihan bagi kita kecuali untuk berusaha.
SabarOrang yang meyakini akan takdir Allah, dia akan selalu sabar setiap musibahmenimpanya, karena semuanya dari Allah. Dia akan menyambut musibah itu dengantegar, setegar gunung atau setegar karang diterjang ombak laut. Tanpa goyah sedikitpun.
Sungguh indah apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib r.a.: “Hai bapak Fulan,sesungguhnya jika engkau bersabar, engkau telah melewati takdirmu, dan engkaumendapatkan pahala. Tetapi sekiranya engkau bersedih hati, sesungguhnya takdirtetap saja berlaku, dan engkau mendapatkan dosa.”
Artikel lain tentang shabar
Ridha dan Qana’ahKita akan ridha terhadap apa yang diberikan Allah dan qanaah akan rezeki yang Diaberikan kepada kita. Sehingga kalau kita sudah berusaha tetapi takdir bicara lain,kita akan ridha dengan kegagalan yang dia alami, karena semua dari Allah. Tidakada alasan untuk tidak ridha.
Pengaruh dari sikap ini dia akan bersungguh-sungguh mencari rezeki dan dengancara yang benar.
Menerima Apa AdanyaOrang yang yakin dengan takdir, dia akan menerima apa yang diberikan Allahkepadanya. Sikap ini akan melahirkan kekuatan jiwa, tidak akan kecewa, sedih,putus asa, dan sikap-sikap cengeng lainnya. Dia yakin apa yang terjadi pada dirinyaadalah yang terbaik bagi dia.
Memiliki Harga DiriOrang yang yakin akan takdir Allah akan memiliki harga diri karena yakin apa yangdia miliki bukan berasal dari manusia tetapi dari Allah semata. Jika pun ada peranmanusia, itu hanya sebagai perantara saja. Harga diri ini akan menjadi sumberkekuatan luar biasa, sehingga dia bisa mencurahkan segenap potensinya.
Berjiwa Tenang dan DamaiOrang yang yakin akan takdir, akan yakin pula bahwa segala musibah tidak akanmembuatnya takut dan ciut. Dia tenang terhadap apapun yang akan dan telah terjadikarena semua kehendak Allah. Dia tidak akan ragu melakukan apapun karena hasiladalah keputusan Allah setelah dia berusaha. Dia tidak akan menyesali masa lalu,dia yakin dengan masa kini, dan berani menghadapi hari esok.
Berorientasi ke Depan dan Doing The BestOrang yang yakin akan kekuatan Allah, sabar, ridha, qana’ah, menerima apa adanya,memiliki harga diri, tenang, dan damai terhindar dari penyesalan masa lalu, beranimenghadapi realitas, bebas dari rasa pesimis, dia tidak mendapatkan jalan lainkecuali berorientasi ke depan menuju yang lebih baik, bertumbuh, dan melakukanpekerjaan sebaik mungkin.
Semoga.

Berbuat Lebih untuk Mendapat Lebih

Untuk menjadi anggota pasukan khusus, seorang prajurit harus melewati gemblengan dan serangkaian ujian sangat berat. Latihan-latihan yang mereka laksanakan cenderung keras, menakutkan dan berisiko. Tidak hanya risiko terluka, cacat, bahkan risiko kematian harus mereka hadapi. Sulit sekali prajurit "biasa-biasa" yang latihannya biasa-biasa dapat menjadi anggota pasukan khusus.
Saudaraku, untuk menjadi manusia hebat, kita harus mau melakukan hal lebih dari biasanya. Untuk menjadi anggota Kopasus saja, latihannya demikian serius, apalagi kalau kita ingin menjadi hamba pilihan di hadapan Allah. Kita harus mau berbuat lebih dari sekadar biasa-biasa saja. Kalau shalat, lakukanlah shalat terbaik, awali dengan wudhu terbaik, tepat waktu, di masjid, berjamaah, shaf terdepan (khususnya untuk laki-laki), khusyuk, menggunakan pakaian yang baik dan bersih, wangi-wangian. Lengkapi pula shalat fardhu kita dengan shalat rawwatib. Sangat wajar kita melakukan yang terbaik, bukankah kita akan menghadap Dzat Yang Mahasempurna?
Kalau berzikir, lakukanlah zikir terbaik, jangan asal-asalan. Libatkan hati dan perasaan, jangan sekadar lisan saja. Kalau membaca Alquran, lakukan dengan cara terbaik, tartil dan penuh penghormatan, walau kita tidak paham artinya. Kalau bersedekah, lakukanlah sedekah terbaik, penuh keikhlasan, tidak menyakiti yang diberi. Kalau bekerja, lakukanlah dengan cara terbaik, tidak asal-asalan dan menunda-nunda. Jadilah kita seorang profesional atau seorang expert (ahli).
Demikian pula shaum Ramadhan yang tengah kita jalani, lakukanlah sebaik mungkin. Jangan mau shaum kita tergolong shaum biasa-biasa saja. Jangan sekadar shaum menahan lapar, haus dan kantuk saja. Namun kendalikan pula pancaindra, pikiran dan hati kita dari hal-hal yang dilarang agama. Raih pula semua keutamaan Ramadhan, jangan disia-siakan. Lakukan amal-amal utama Ramadhan sebaik mungkin. Jangan takut melakukan sesuatu yang lebih dari yang orang lain lakukan. Intinya, berbuatlah lebih dari sekadar biasa. Insya Allah, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih pula.
Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak beramal atau sekadar melakukan yang biasa-bisa saja. Sebab Allah SWT telah menganugerahi kita beragam kelebihan dan potensi diri yang luar biasa. Bukankah kita diciptakan sebagai makhluk terbaik? Sebagaimana difirmankan dalam Alquran, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS At Tiin [95]: 4).
Bahkan seorang saleh, Abu Tammam namanya, menyebut ketidaksungguhan sebagai aib yang sulit dimaafkan. Ia berkata, "Tidak ada aib yang kutemukan dalam diri manusia, melebihi aib orang-orang yang sanggup menjadi sempurna, namun tidak mau menjadi sempurna".
Saudaraku, mengapa Rasulullah SAW dan para sahabat menjadi manusia-manusia unggul--yang disegani manusia dan disayangi Allah? Salah satu sebabnya, mereka mau berbuat lebih dan selalu berusaha melakukan amal terbaik. Akhirnya, mereka pun mendapat karunia lebih. Semoga kita bisa meneladani mereka. Amin